Warning: Constant DISALLOW_FILE_EDIT already defined in /home/impactfirst.co/public_html/wp-config.php on line 94
Perubahan Perilaku Konsumen Pasca Pandemi Covid-19
Menu Close

Perubahan Perilaku Konsumen Pasca Pandemi Covid-19

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

IN THIS ARTICLE

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Pasca pandemi, terjadi perubahan perilaku konsumen pada seluruh industri. Hal ini bermula sejak anjloknya perekonomian Indonesia pada tahun 2020 yang berdampak pada jumlah pembelian. Namun sejak tahun 2021 hingga saat ini, ekonomi nasional menunjukkan pertumbuhan ke arah positif yang menyebabkan peningkatan pembelian pada berbagai sektor industri. Grosir adalah salah satu sektor yang mengalami kenaikan penjualan dan diprediksi akan terus meningkat hingga tahun 2023.

Artikel ini akan membahas terkait perubahan perilaku konsumen pasca pandemi Covid-19 yang perlu Anda ketahui!

Kontribusi dan peluang grosir di Indonesia

Salah satu faktor peningkatan Indeks Penjualan Riil (IPR) pada Agustus 2022, yaitu sebesar 202,8, adalah peningkatan penjualan kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Survei Penjualan Eceran (SPE) Juli 2022 mengindikasikan kinerja penjualan eceran akan terus tumbuh akibat terjadinya kenaikan penjualan, terutama sub kelompok sandang (59,4% yoy). Data ini menunjukkan bahwa ritel dan grosir memiliki kontribusi yang besar bagi perekonomian Indonesia.

IPR Oktober 2022 tercatat sebesar 204,3 atau tumbuh sebesar 4,51% (yoy) dan hasil SEP menunjukkan selama kuartal II 2022 penjualan ritel mengalami pertumbuhan. Jika angka ini terus tumbuh, sektor ritel dan grosir diperkirakan akan terus berkembang hingga tahun 2023. Pembatasan kegiatan masyarakat yang berkurang dan pulihnya pariwisata juga menunjukkan bahwa ritel dan grosir akan memiliki pertumbuhan yang positif.

Perubahan perilaku konsumen akibat pandemi Covid-19

Pada awal tahun 2020, Indeks Penjualan Ritel semakin menurun tiap bulannya, puncaknya pada April 2020 dengan pertumbuhan (yoy) -16.9%. Akibat pandemi, pertumbuhan pendapatan sekali pakai barang rumah tangga juga menurun selama periode pasca Covid-19 dibandingkan dengan periode pra-Covid-19 (2015-2019). Selain itu, sensitivitas penduduk terhadap harga pun meningkat yang mengakibatkan permintaan barang-barang konsumen melalui diskon dan wholesale Mass Grocery Retail (MGR) meningkat.

Survei McKinsey mengatakan bahwa optimisme masyarakat Indonesia pada Maret 2022 meningkat hingga 15%. Salah satu penyebabnya adalah selama triwulan berturut-turut  ekonomi Indonesia terus mengalami pertumbuhan dan pada tahun ini berada di atas 5%. Selain optimisme, perilaku konsumen juga mengalami perubahan akibat dampak Covid-19 yang mengakibatkan perubahan pada trend di berbagai sektor industri.

5 Trend perilaku konsumen Agustus 2022

Sejak pandemi, perilaku konsumen berubah dari biasanya. Perubahan perilaku ini terus berlanjut hingga pasca pandemi yang sebagian aktivitasnya sudah kembali ke aktivitas normal. Terdapat 5 trend perilaku konsumen yang berasal dari survei McKinsey pada Agustus 2022, di antaranya adalah:

perubahan perilaku konsumen

1. Optimisme yang semakin kuat disamping berkurangnya keinginan untuk berbelanja

Sebanyak 80% konsumen Indonesia merasa optimis dengan pertumbuhan ekonomi nasional, sedangkan hanya 2% yang merasa pesimis. Hal ini didorong dari semakin meningkatnya pertumbuhan ekonomi nasional setiap bulannya walaupun keinginan konsumen untuk berbelanja di berbagai kategori berkurang (restoran, pakaian, dan kebutuhan rumah). 

2. Kembali ke aktivitas di luar rumah dengan kebiasaan yang telah disesuaikan

56% dari konsumen beraktivitas di luar rumah semenjak pandemi sudah dapat ditangani dengan baik. Menurut data BPS pada Februari 2022, aktivitas masyarakat di luar rumah telah meningkat. Peningkatan aktivitas ini di antaranya berada di tempat perdagangan, ritel, dan tempat rekreasi. Kantor-kantor juga sudah menerapkan wfo atau hybrid dengan kegiatan yang telah disesuaikan.

3. Digitalisasi dan omnichannel tetap dilakukan

Pasca pandemi, berbelanja langsung di toko kembali meningkat karena memiliki pengalaman yang berbeda. Bagi beberapa subsektor industri, belanja offline masih menjadi pilihan terbaik untuk dilakukan karena perlu memilih dan melihat barang tersebut secara langsung. Namun begitu, sekitar 60-90% konsumen tetap melanjutkan berbelanja offline maupun online. Penting bagi pemilik ritel dan grosir untuk memanfaatkan omnichannel serta melakukan digitalisasi agar memudahkan mengelola berbagai marketplaces. Terlebih penggunaan media sosial dan m-banking semakin meningkat yang memudahkan belanja online maupun offline.

Pengelolaan marketplaces dapat dilakukan secara otomatis melalui satu software terintegrasi pada modul omnichannel Impact. Melalui modul ini, Anda dapat melihat analisa performa dari masing-masing channel.

4. Loyalitas dinilai berdasarkan value

40-60% responden mengatakan bahwa mereka akan mengubah brand/ritel dengan trend yang sedang kekinian di kaula anak muda. Saat ini ‘value’ suatu produk menjadi alasan utama konsumen untuk membeli suatu produk.

5. Adanya gangguan antara berhemat dan boros

Konsumen saat ini akan rela membayar harga yang lebih mahal atau memilih paket premium untuk international flight, personal-care, produk, dan makanan cepat saji. Di lain sisi, konsumen lebih memilih membeli makanan di restoran dan kebutuhan rumah tangga dalam jumlah yang lebih sedikit dari biasanya. Ini memperlihatkan konsumen menjadi lebih boros terhadap kategori tertentu dan imbasnya akan lebih berhemat pada kategori produk lainnya.

Optimisme masyarakat terhadap perekonomian Indonesia

Indonesia memiliki tingkat optimisme yang paling tinggi dibandingkan dengan 10 negara lainnya. Dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia, China dan US, memiliki tingkat optimisme yang lebih rendah dari pada Indonesia yaitu di posisi 3 dan 5. Pada tahun 2022, China mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 3,2% dan diperkirakan meningkat 4,4% pada 2023. Sementara itu, US tumbuh sebesar 1,6% dan pada tahun selanjutnya diprediksi akan turun menjadi 1%.

Hasil survei McKinsey pada Maret 2022 menunjukkan Indonesia memiliki optimisme akan ekonomi global paling tinggi dibandingkan negara besar dengan GDP tertinggi lainnya.  Sebanyak 80% responden merasa optimis dengan perekonomian Indonesia dan salah satu penyebabnya adalah karena pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat hingga saat ini. Terdapat faktor pendukung lainnya seperti, permintaan ekspor yang meningkat, sektor pariwisata yang mulai kembali pulih, dan vaksinasi yang terus dilakukan saat ini.

Pengaruh pendapatan dan tabungan terhadap tingkat proporsi konsumen

peningkatan pendapatan penduduk

Pada 2020, tingkat pendapatan penduduk menurun dan lebih banyak digunakan untuk konsumsi dibandingkan untuk  menabung. Pendapatan menurun akibat awal mula pandemi Covid-19 banyak perusahaan yang sulit bertahan dan adanya peningkatan angka pengangguran. Di lain sisi, pengeluaran terus meningkat akibat bertambahnya kebutuhan pangan serta kebutuhan papan seperti uang sewa hunian dan biaya kesehatan. Dengan pendapatan yang menurun, tidak sedikit masyarakat yang menjual aset atau menggunakan tabungannya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Pada tahun 2022, penduduk mulai sadar bahwa kebutuhan tabungan penting terutama dalam kondisi ekonomi yang masih fluktuatif, dan pembelajaran dari pandemi Covid-19.

Kategori produk yang paling banyak dibeli berdasarkan perbedaan generasi

Perubahan perilaku konsumen

Pandemi Covid-19 memiliki dampak yang cukup besar bagi sektor pariwisata akibat penurunan jumlah kunjungan karena adanya pembatasan kegiatan masyarakat. Pada tahun 2022, sektor pariwisata mulai pulih dan trend liburan sudah kembali. Tercatat pada Agustus 2022, masyarakat lebih banyak menghabiskan uangnya untuk liburan atau traveling dan generasi yang paling banyak memilih adalah generasi millenial (1981-1996). Sedangkan pada generasi Gen Z, mereka lebih banyak menghabiskan uangnya untuk pakaian, sepatu, dan aksesoris. Hal ini juga berkaitan dengan semakin mudahnya akses berbelanja online.

Perubahan perilaku konsumen yang mulai beralih berbelanja online, mengharuskan perusahaan untuk dapat beradaptasi. Dengan modul eCommerce Impact, perusahaan dapat menjual barang mereka pada secara online melalui website yang sudah terintegrasi dengan inventory, sehingga stok barang akan ter-update otomatis secara real-time.

Net intent konsumen pada berbagai kategori produk

perubahan perilaku konsumen

Net intent pada berbagai kategori berada di angka negatif dan angka yang paling rendah adalah kategori aksesoris, footwear, dan home decoration. Sedangkan net intent positif dan terbesar adalah pada kategori groceries, vitamin dan obat-obatan. Survei ini menunjukkan bagaimana sentimen responden terhadap pengeluaran di berbagai kategori. Selama pandemi, banyak pekerjaan yang dilakukan dari rumah, yang menyebabkan kebutuhan pangan juga meningkat. Selain itu, untuk menjaga stamina tubuh dan menghindari terpaparnya virus, masyarakat perlu membeli berbagai vitamin dan obat-obatan.

Perubahan perilaku konsumen akibat penggunaan media sosial dan omnichannel

pengaruh penggunaan sosial media

Konsumen Indonesia menjadi pengguna omnichannel terbanyak kedua setelah India dan paling banyak pertama dalam penggunaan media sosial. Konsumen dari berbagai generasi seperti, baby boomer, Gen X, millennial, hingga Gen Z lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bermain sosial media, belanja makanan secara online, dan bermain TikTok. Melihat banyaknya konsumen yang sudah beralih ke ranah digital, perusahaan perlu melakukan transformasi digital agar bisa tetap bersaing dengan kompetitor lainnya. 

Konsumen pada sektor kendaraan, perhiasan, tembakau, grocery, personal care lebih banyak membeli melalui omnichannel dan membeli langsung dibandingkan hanya membeli secara online. Kebalikannya, konsumen sektor makanan dan minuman lebih banyak memilih untuk membeli secara online dan omnichannel dibandingkan membeli secara langsung di toko. Kemudahan food delivery menjadi sebab utama responden lebih memilih untuk membeli makanan secara online.

Kecenderungan konsumen untuk mengganti brand

kecenderungan mengganti brand

Loyalitas konsumen terhadap suatu brand dilihat dari kecepatan suatu perusahaan dalam memenuhi permintaan konsumen pada waktu tertentu. Konsumen cenderung membeli produk dengan brand lain dibandingkan harus menunggu ketersedian produk pada brand sebelumnya. Alasan utamanya adalah karena value yang diberikan brand tersebut lebih baik, seperti promosi dan harga yang diberikan, kualitas, hingga kemauan konsumen yang ingin mencoba brand baru.

Dengan modul inventory Impact, Anda dapat melakukan forecasting demand dengan akurat melalui data real-time yang ter-update otomatis. Selain itu, adanya fitur reordering rules dapat mencegah kekurangan stok barang karena purchase order akan terbuat otomatis saat barang mencapai batas minimum.

Kesimpulan

Pandemi Covid-19 memberikan dampak buruk bagi perekonomian Indonesia, salah satunya adalah sektor ritel dan grosir. Setelah pandemi dapat ditangani dengan baik, industri grosir mulai pulih hingga saat ini. Perubahan dinamika pasar ini juga memberikan dampak pada perubahan perilaku konsumen dari tahun-tahun sebelumnya. Pada pasca pandemi perilaku konsumen berubah ke arah transformasi digital akibat kemudahan teknologi yang tersedia selama pandemi.