Impact.

Menu Close

Biaya Produksi adalah: Rumus, 5 tipe, dan Best Practice

IN THIS ARTICLE

SHARE ARTIKEL INI:

Biaya produksi adalah jumlah total biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk menghasilkan produk atau layanan. Semakin banyak permintaan pelanggan, maka produksi akan semakin tinggi. Hal tersebut juga berdampak pada naiknya biaya pada produksi perusahaan.

Biaya produksi menjadi konsep penting dalam akuntansi dan menjadi pertimbangan untuk mengevaluasi efisiensi dan profitabilitas perusahaan. Guna memahami lebih lanjut mengenai biaya produksi mulai dari definisi, rumus, tipe, hingga best practice-nya, Anda dapat membaca artikel berikut.

Biaya produksi adalah

Biaya produksi adalah semua biaya langsung dan tidak langsung yang dikeluarkan oleh perusahaan dalam membuat produk atau layanan yang menguntungkan bagi perusahaan. Beberapa hal yang termasuk pada konsep tersebut yaitu biaya tenaga kerja, bahan baku, persediaan manufaktur habis pakai, dan biaya overhead umum.

Menurut Kuswadi (2005), biaya produksi adalah biaya yang berkaitan dengan perhitungan beban pokok produksi atau beban pokok penjualan. Konsep tersebut meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik.

Tujuan penetapan biaya produksi

Tujuan utama dari penetapan biaya produksi yaitu untuk memaksimalkan laba perusahaan. Dengan konsep ini, perusahaan dapat menghitung total biaya yang dikeluarkan untuk produksi dan membandingkannya dengan pendapatan yang akan diperoleh. Jika pendapatan melebihi biayanya, maka perusahaan mengalami keuntungan.

Selain itu, biaya produksi juga bertujuan untuk mengontrol biaya proses produksi dan membantu perusahaan dalam mengambil keputusan jangka pendek seperti pembelian bahan baku, peralatan, dan penentuan harga jual produk. Konsep ini juga membantu manajer dalam mengevaluasi proses produksi yang paling banyak menyebabkan pemborosan dan meminimalisir proses tersebut.

Penentuan biaya produksi mempengaruhi harga jual produk. Jika biayanya rendah, maka harga produk juga dapat rendah, begitupun sebaliknya.

5 tipe biaya produksi

Terdapat 5 tipe biaya produksi pada perusahaan. Berikut penjelasan masing-masing tipenya:

1. Biaya tetap

Biaya tetap adalah biaya yang harus dikeluarkan perusahaan yang tidak dipengaruhi oleh berapa banyak produk atau layanan yang dihasilkan. Biaya ini tidak tergantung pada volume produksi, tetapi biasanya berulang dan berbasis waktu. Contoh biaya tetap adalah gaji bulanan atau sewa.

2. Biaya variabel

Biaya variabel adalah biaya yang dapat berubah besarannya secara proporsional dengan setiap perubahan dalam produksi. Jika volume produksi naik maka biaya variabel naik, dan sebaliknya jika produksi turun maka biaya variabel turun. Contoh biaya variabel adalah biaya bahan baku, pengemasan, atau pengiriman.

3. Biaya total

Biaya total adalah jumlah biaya tetap dan variabel yang muncul selama produksi. Dengan kata lain, biaya total adalah total biaya pada proses produksi dan dapat berubah sesuai dengan volume produksi.

4. Biaya rata-rata

Biaya rata-rata adalah total biaya produksi dibagi dengan total unit output. Biaya rata-rata (atau biaya unit) merujuk pada berapa biaya yang perusahaan keluarkan untuk memproduksi satu unit dan membantu menentukan harga jualnya.

5. Biaya marjinal

Biaya marjinal adalah biaya tambahan dalam biaya total ketika satu unit produk tambahan diproduksi. Biaya marjinal muncul saat terdapat penambahan produksi secara tiba-tiba. Misalnya, ketika terdapat pesanan mendadak yang harus dipenuhi.

Menghitung biaya marjinal membantu bisnis menentukan tingkat produksi optimalnya. Ketika biaya marjinal untuk menghasilkan satu unit tambahan lebih rendah daripada biaya per unit rata-rata, bisnis telah mencapai skala ekonomi dan potensi peningkatan untuk memaksimalkan margin keuntungan.

3 unsur biaya produksi

Dalam biaya produksi terdapat 3 unsur penting. Adapun unsur-unsur tersebut meliputi:

1. Biaya material langsung (Direct Material)

Biaya material langsung adalah biaya yang dikeluarkan untuk semua bahan baku dan jenis persediaan lainnya yang langsung masuk ke produk akhir. Contoh biaya bahan langsung adalah kain untuk pakaian jadi atau aluminium dan karet untuk sepeda.

2. Biaya Tenaga Kerja Langsung (Direct Labor)

Biaya tenaga kerja langsung adalah biaya untuk upah, tunjangan, dan asuransi untuk pegawai yang secara aktif terlibat langsung dalam produksi barang. Misalnya, insinyur yang mendesain mobil atau pegawai yang mengoperasikan mesin. Manajer departemen atau karyawan tidak termasuk dalam biaya tenaga kerja langsung.

3. Biaya Overhead Pabrik (Manufacturing Overhead)

Biaya overhead pabrik merupakan semua biaya tidak langsung lainnya yang dikeluarkan selama produksi. Sebagai perbandingan, biaya bahan langsung dan tenaga kerja langsung terkait dengan unit produk tertentu, biaya overhead untuk proses manufaktur secara keseluruhan. Beberapa yang termasuk biaya overhead pabrik yaitu:

  • Bahan Material Tidak Langsung (Indirect Material) adalah bahan yang digunakan dalam proses produksi namun cenderung sulit untuk dilacak nominalnya. Contohnya lem, minyak, dan cairan pembersih.
  • Tenaga Kerja Tidak Langsung (Indirect Labor) adalah tenaga kerja yang tidak terlibat langsung dalam produksi. Contohnya petugas keamanan dan supervisor quality control.
  • Biaya Overhead Lain, seperti biaya sewa gedung, utilitas pabrik, tanah, dan depresiasi mesin.

Rumus menghitung biaya produksi dan contohnya

Guna menghitung biaya produksi, Anda dapat menggunakan formula berikut:

 

Biaya produksi = Biaya tetap + Biaya variabel

Contoh: Produsen furniture yang membuat barang furniture memiliki biaya tetap yang meliputi sewa gudang, penyusutan peralatan dan aset, tenaga kerja, utilitas, dan asuransi, sebesar Rp20.000.000 per bulan. Biaya variabelnya untuk produksi pada bulan yang sama termasuk bahan baku, pengemasan, pengiriman, dan biaya pemrosesan kartu kredit, berjumlah Rp10.000.000.

Maka biaya produksi untuk bulan tersebut adalah Rp20.000.000 + Rp10.000.000 = Rp30.000.000

Sementara itu, rumus untuk menghitung biaya rata-rata per unit adalah:

 

Biaya produksi per unit = (Biaya tetap + Biaya variabel) / Jumlah total unit yang diproduksi

Jika produsen furniture tersebut membuat 10 set furniture pada bulan itu, maka biaya per unitnya adalah Rp30.000.000 / 10 = Rp1.000.000.

Perbedaan biaya produksi dan biaya manufaktur

Biaya produksi seringkali dianggap sama dengan biaya manufaktur, padahal kedua hal tersebut memiliki perbedaan. Biaya produksi mengacu pada semua biaya yang terkait dengan perusahaan dalam menjalankan bisnisnya, sedangkan biaya manufaktur hanya mewakili biaya yang diperlukan untuk membuat produk. Sementara biaya pada produksi mencakup biaya langsung dan tidak langsung untuk mengoperasikan bisnis, biaya manufaktur hanya mencakup biaya langsung.

Kedua perhitungan tersebut memberikan gambaran yang jelas mengenai semua biaya yang perusahaan keluarkan dan membantu menetapkan harga produk untuk memastikan profitabilitas jangka panjang.

Best practice biaya produksi

Tujuan berkelanjutan dari setiap bisnis adalah untuk mengurangi biaya produksi tanpa mengorbankan kualitas produk atau layanan mereka. Terdapat beberapa cara untuk mengoptimalkannya, yaitu:

1. Melakukan pengecekan pada jumlah produksi secara berkala

Anda harus menghitung biaya produksi secara berkala (yaitu, per kuartal, per bulan, per musim) sehingga dapat mendeteksi perubahan apa yang terjadi dalam biaya proses produksi. Selain itu, hal ini juga dapat membantu Anda dalam menganalisis pengaruhnya terhadap penjualan dan keuntungan bisnis.

2. Mengurangi biaya bahan dan persediaan

Guna mengurangi biaya bahan dan persediaan, Anda dapat mencari pemasok dengan harga yang dapat dinegosiasikan. Selain itu, Anda juga dapat menanyakan tentang diskon yang tersedia sebagai imbalan atas kontrak yang lebih lama, pesanan yang lebih besar, atau pembayaran tunai. Anda juga dapat melihat penawaran dari pemasok lain atau pertimbangkan untuk menguji bahan alternatif yang tidak mengurangi kualitas.

3. Merampingkan proses produksi

Tinjau langkah-langkah dan sumber daya yang digunakan untuk membuat produk, bicarakan dengan tim produksi, dan cari peluang untuk menyederhanakan prosesnya. Jika terdapat proses yang terlalu memakan waktu atau tidak perlu, Anda dapat memperbarui alur kerja dan menghapus proses tersebut. 

4. Hilangkan biaya yang tidak perlu

Dalam proses produksi, biasanya terdapat pengeluaran yang jika Anda potong tidak akan membuat perbedaan besar pada produk atau layanan. Banyak bisnis menghabiskan banyak uang untuk pengemasan, yang mengarah pada paket yang lebih berat, tarif pengiriman yang lebih tinggi, dan pemborosan.

Dalam survei pengemasan D.S. Smith pada Agustus 2020, 93% responden melaporkan menerima kotak dengan ruang kosong dan 73% responden menyatakan menerima kotak yang ukurannya dua kali lipat atau lebih dari yang dibutuhkan.

Area lain yang dapat menawarkan penghematan yaitu mengkonsolidasikan pengiriman, mengoptimalkan jumlah inventaris yang ada, dan menjadwalkan pemeliharaan peralatan rutin untuk mencegah rusaknya alat dan waktu henti.

5. Memanfaatkan otomatisasi dan perangkat lunak

Pada era digital saat ini, terdapat banyak software yang dapat membantu mengefisienkan proses produksi pada manufaktur. Salah satunya yaitu software ERP Impact. Penggunaan software ERP Impact menjadi pilihan yang tepat. Dengan software tersebut, seluruh proses bisnis dapat dilakukan secara otomatis sehingga memperkecil kemungkinan human error.

Selain itu, adanya real-time reports juga memungkinkan perusahaan memperoleh data real-time sehingga dapat meningkatkan kualitas pengambilan keputusan. Adapun beberapa data yang diintegrasikan yaitu berupa data penjualan, keuangan, produk dan jasa, operasional, hingga data yang berasal dari pelanggan pada customer service

biaya produksi adalah salah satu komponen yang membutuhkan data akurat mengenai produksi dari perusahaan

Kesimpulan

Biaya produksi adalah inti dari setiap bisnis. Hal tersebut karena biaya pada proses produksi mempengaruhi pemilihan pemasok dan jenis produk serta harga yang ditawarkan kepada pelanggan. Penghitungan biaya produksi dapat membantu Anda dalam membuat keputusan strategis, dan mengetahui potensi area perbaikan.

Kini, Anda juga dapat mengefisienkan proses bisnis dan biaya pada produksi Anda dengan penggunaan ERP Impact. Proses manual yang biasanya Anda lakukan dapat dihilangkan dengan adanya otomatisasi melalui software tersebut. Berbagai fitur di dalamnya juga dapat memudahkan Anda untuk saling terhubung dengan berbagai divisi pada perusahaan.