Mari Mengenal Fintech Syariah



Di era digital ini mungkin kita sudah sering mendengar kata fintech. Solusi financal berbasis teknologi ini mulai dikembangkan pada tahun 2006, namun perkembangannya menjadi sangat pesat setelah tahun 2015. Financial technology (fintech) merupakan inovasi layanan keuangan dengan menggunakan teknologi agar masyarakat dapat dengan mudah mengakses produk dan layanan keuangan serta melemahkan barrier to entry (BI, 2016). Fintech sendiri memiliki beberapa jenis, diantaranya ada Third-party payment systems yaitu sistem pembayaran melalui pihak ketiga seperti crossborder E-Commerce, online-to-offline (O2O), sistem pembayaran mobile payment, dan platform pembayaran yang menyediakan jasa seperti pembayaran bank dan transfer. Kedua ialah Peer-to-Peer (P2P) Lending, P2P Lending merupakan platform yang mempertemukan pemberi pinjaman dan peminjam melalui internet. Ketiga, Crowdfunding merupakan fintech berfungsi sebagai platform bagi masyarakat yang ingin memberikan dukungan secara finansial bagi pihak-pihak tertentu.


Di Indonesia sendiri, perkembangan fintech sangatlah pesar, bahkan untuk menyesuaikan dengan masyarakat indonesia yang mayoritasnya penduduk muslim, mulai berkembang fintech-fintech yang berbasis syariah. Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, prospek industri fintech syariah di Indonesia tampak sangat baik. Lalu pernakah anda mendengar tentang fintech syariah? Mungkin sudah banyak Fintech syariah yang ada disekitar anda atau sudah anda gunakan saat ini. Fintech syariah biasanya didominasi dalam bentuk platform crowdfunding, dan akan disalurkan ke pihak-pihak yang membutuhkan, namun juga ada yang sifatnya P2P dengan menyasar pada UMKM.


Apa perbedaan dengan fintech syariah dibandingkan fintech konvensional? Fintech syariah tidak mengenal sistem bunga karena pada saat perjanjian atau akad, hal ini dikarenakan fintech syariah akan berperan sebagai pembeli produk dari yang dihasilkan nasabah, penyewa benda atau modal kepada nasabah, atau fintech ataupun nasabah bersama-sama menaruh modal untuk sesuatu hal yang nantinya nasabah bisa membeli bagian dari fintech untuk memiliki benda tersebut sepenuhnya. Hal ini disebut dengan Akad murabahah, akad ijarah wa iqtina, dan mutanaqishah. Hal lain yang juga membedakan fintech syariah dengan konvensional ialah pada hal resiko ketika nasabah tidak memiliki kemampuan untuk membayar cicilannya yang akan ditanggung kedua belah pihak baik Fintech syariah ataupun nasabah.


Apapun pilihan fintech anda, tentu pastikan bahwa fintech tersebut sudah terdaftar di OJK. Pastikan juga seluruh proses dari pengajuan pinjaman, pembayaran, hingga resiko yang terjadi jika terjadi keterlamatan dalam pembayaran sudah dipahami dengan betul.


(Photo by : Kabarbisnis)


Baca juga :


5 Sumber Pendanaan Bagi Pebisnis Pemula


Strategi Menghindari PHK dengan Efiesiensi Budget ditengah Pandemi Covid-19


Ultimate ERP Implementation Guide for SMEs


PT Chub Pamadana International

© 2020 by Impactfirst.

+62 852-4330-1566

cynthia@impactfirst.co

Soho Podomoro City 

Jl. Letjen S. Parman, Kav 28

Jakarta Barat,
Jakarta, Indonesia 11470