Seorang pengacara berusia 35 tahun mengalami stroke. Pada suatu pagi, dia tidak bisa bergerak dan bagian kiri tubuhnya lumpuh. Sebelum meminta bantuan, dia menghubungi asistennya karena seharusnya hadir di pengadilan hari itu.

Stroke ini terjadi karena dia telah mengabaikan tanda-tanda peringatan seperti telinga berdenging, gangguan penglihatan, dan kelelahan selama beberapa hari. Meskipun biasanya stroke terjadi pada orang di atas 65 tahun, dokternya menganggap bahwa stres adalah penyebabnya karena pekerjaan pengacara yang menuntut.

Pekerjaan dengan tekanan tinggi dapat menyebabkan kecemasan dan ketegangan berlebihan, yang berdampak negatif pada tubuh dan otak kita. Tubuh kita melepaskan hormon dan bahan kimia sebagai respons terhadap stres, yang bisa menyebabkan masalah kesehatan seperti sakit kepala, mual, insomnia, dan bahkan serangan jantung atau stroke.

Jika kita berada dalam pekerjaan yang berdampak pada kesehatan kita, penting untuk mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki tubuh dan pikiran kita. Hal ini termasuk mengelola stres dengan baik dan menjaga keseimbangan kerja-hidup yang sehat.

Telusuri sumber stres yang Anda alami

Jika Anda merasa sakit atau mengalami masalah fisik akibat stres, bisa jadi sulit untuk mengetahui penyebabnya. Misalnya, seorang wanita yang bekerja di bidang akademik sering merasa mual dan muntah saat bepergian, tetapi dia salah mengartikan tanda-tandanya.

Untuk membantu mengidentifikasi penyebabnya, Anda bisa mencatat gejala fisik Anda dalam jurnal kecil atau kartu indeks. Catatlah apa yang terjadi pada Anda dan di sekitar Anda saat gejala muncul. Apakah ada situasi sulit seperti menulis email ke klien atau mempersiapkan pertemuan dengan atasan? Amati polanya setelah mencatat selama tiga sampai lima hari.

Ketika merasa tidak nyaman atau tidak bahagia dalam pekerjaan, terkadang sulit menemukan penyebabnya secara langsung. Proses eliminasi dan waktu diperlukan untuk menyadari alasan di balik perasaan tersebut.

Baca juga: Meningkatnya Ketegangan dalam Remote Work

Meringankan gejala stres

Untuk merasa lebih baik, tergantung pada apa yang membuat Anda merasa tidak enak. Tiga tempat yang baik untuk memulai adalah:

1. Latih pikiran dan tubuh Anda

​​Riset mengatakan bahwa berolahraga dapat membantu kita mengatasi stres. Berolahraga dianggap sebagai tes stres untuk tubuh kita. Saat kita cemas, sistem fisiologis kita berkomunikasi dengan lebih efisien. 

Meditasi juga merupakan cara umum untuk mengurangi stres, karena dapat meningkatkan kesadaran dan objektivitas kita. Anda bisa mencoba meditasi resolusi konflik selama 10 menit

Di tempat kerja, mungkin ada kesempatan untuk mengurangi stres melalui aktivitas fisik dan mental. Banyak perusahaan menginvestasikan dalam program kesehatan untuk mengurangi biaya penyakit akibat stres. Lakukan riset Anda dan manfaatkan kesempatan ini.

Baca juga: 11 Strategi untuk Mengatasi Perangkap Pikiran di Dunia Kerja

2. Tetapkan batasan untuk diri Anda

Anda pasti pernah membuka ponsel Anda di pagi hari, dan email yang Anda lihat mempengaruhi mood sepanjang hari. Untuk mengatasi hal ini, Anda bisa membuat aturan untuk diri sendiri: Jangan membuka email sebelum sarapan.

Catat titik sentuh stres Anda sendiri, dan tetapkan batasan yang terasa tepat untuk Anda. Coba keluarkan ponsel Anda sepenuhnya dari kamar tidur Anda, yang dapat menghilangkan godaan untuk check-in lebih awal atau terlambat dan memungkinkan melatonin melakukan keajaibannya.

Cahaya dari ponsel Anda, yang disebut “cahaya biru,” dapat mengganggu hormon tidur (melatonin) dan merangsang otak Anda seolah-olah masih siang. National Sleep Foundation, menyarankan untuk menghindari menggunakan layar ponsel selama satu jam sebelum tidur untuk menapatkan tidur yang lebih baik.

3. Biarkan pikiran Anda bersuara

Saat mengalami stres di dunia pekerjaan, berbicara secara terbuka dengan atasan atau rekan kerja bisa sangat membantu. 

Contohnya, seorang wanita di dunia akademis merasa mual karena situasi kerjanya. Penyebab stresnya adalah pemimpin yang tidak efektif. Dia dan rekan kerjanya bekerja sama untuk menyampaikan keluhan mereka dengan sopan dan jelas kepada bagian sumber daya manusia tentang masalah ini. 

Sumber daya manusia akhirnya mengambil tindakan dengan menempatkan pemimpin tersebut dalam peran non-manajerial. Hasilnya, dia kini senang dengan pekerjaannya.

Apakah sudah waktunya meninggalkan pekerjaan Anda?

Jika stres di tempat kerja menyebabkan Anda sakit secara fisik dan Anda merasa bahwa hal tersebut akan terus berlanjut meskipun sudah berusaha sebaik mungkin, mungkin saatnya untuk mempertimbangkan untuk pergi dari pekerjaan tersebut.

Banyak yang ragu mengambil keputusan, terutama saat pekerjaan menawarkan gaji tinggi. Untuk bantu memutuskan, buatlah daftar semua yang Anda terima dari pekerjaan: gaji, tunjangan, status, dan juga masalah yang timbul seperti sakit kepala, insomnia, serangan panik. Selanjutnya, analisis apakah biaya kesehatannya melebihi manfaatnya.

Jika jawabannya adalah ya, mungkin lebih baik untuk pergi. Namun, jika jawabannya adalah tidak, ingatkanlah diri Anda bahwa tetap bekerja adalah pilihan, meskipun ada kekurangannya, dan ada kekuatan di dalamnya juga.

Contohnya adalah kisah pengacara yang mengalami stroke dan dilepaskan dari pekerjaannya. Kejadian tersebut memaksanya untuk merenungkan peran pekerjaannya dalam kondisinya dan mengevaluasi jenis pekerjaan yang lebih sehat. Setelah rehabilitasi intensif, Alyson bisa berjalan lagi, bekerja sendiri, dan mengejar hobi barunya membuat roti bebas gluten untuk dijual.

Jangan menunggu hingga Anda benar-benar lumpuh sebelum mengevaluasi apa yang pekerjaan berikan kepada Anda. Ingatlah bahwa Anda adalah arsitek karir dan hidup Anda, dan memiliki kendali atasnya.

Tim Insights Impact

Tim Insights Impact terdiri dari beragam individu profesional yang memiliki keahlian dan pengalaman dalam berbagai aspek bisnis. Bersama-sama, kami berkomitmen untuk memberikan wawasan mendalam dan pemahaman yang berharga tentang berbagai topik terkait strategi bisnis dan tren industri yang relevan.

Blog
WhatsApp Us