Debat mengenai manfaat dan bahaya remote work kini semakin memanas. Perbedaan pandangan antara pemimpin dan karyawan sulit disepakati sehingga adanya ketegangan.

Namun, penting bagi pemimpin untuk berkolaborasi dengan karyawan guna mencari pendekatan yang seimbang terhadap perubahan cara kerja. Diskusi jujur dan terbuka perlu difasilitasi untuk mengakomodasi kebutuhan dan kekhawatiran kedua belah pihak.

illustration mengenai remote work

Putusnya hubungan antara pemimpin dan karyawan

Setelah lebih dari 20 tahun melakukan penelitian tentang pekerjaan jarak jauh, telah didengar banyak perspektif dari pimpinan maupun karyawan. Yang jelas adalah bahwa alasan utama mengalami kesulitan untuk menyepakati jalan ke depan adalah karena belum sepenuhnya mempertimbangkan 5 W klasik: siapa, apa, di mana, kapan, dan mengapa.

5 W adalah alat kognitif untuk memastikan semua sisi masalah dipertimbangkan dengan baik. Dengan pandangan yang lebih komprehensif, penting bagi para pemimpin untuk memimpin dengan menggunakan 5 W sebagai dasar dialog dengan karyawan.

Dialog perlu seimbang (memahami kebutuhan kedua belah pihak), menghormati (memvalidasi kebutuhan tersebut), dan berkelanjutan (menyesuaikan waktu seiring perubahan kebutuhan). Lebih dari segalanya, kedua belah pihak perlu masuk ke dalam percakapan ini dengan tujuan untuk menemukan solusi yang paling optimal untuk kedua belah pihak — bukan untuk menang. Inilah cara berpikir tentang 5 W dalam situasi ini:

Mengapa: Awal diskusi harus melibatkan penyelarasan tentang mengapa pekerjaan fleksibel menjadi topik diskusi. Motivasi pendorong untuk diskusi dapat berkaitan dengan meningkatkan produktivitas, menarik bakat, atau mempertahankan hubungan sosial.

Apa: Diperlukan kejelasan dalam mendefinisikan faktor-faktor pendorong tersebut, seperti bagaimana kita mengukur kinerja dalam pekerjaan jarak jauh. Pertimbangan tentang waktu perjalanan sebagai contoh menunjukkan bagaimana definisi kinerja yang berbeda dapat mempengaruhi pandangan terhadap kebijakan.

Di mana: Kebijakan pekerjaan jarak jauh perlu mempertimbangkan jenis pekerjaan yang dilakukan karena tidak semua pekerjaan dapat dilakukan di mana saja. Batasan ini harus menjadi pertimbangan dalam diskusi tentang kebijakan.

Kapan: Pemimpin dan karyawan harus mempertimbangkan manfaat jangka pendek dan biaya jangka panjang dari kebijakan waktu kerja. Memberikan fleksibilitas dalam jadwal mungkin menguntungkan dalam jangka pendek, tetapi dapat memiliki konsekuensi jangka panjang.

Siapa: Pertimbangan tentang efek kebijakan pekerjaan fleksibel harus mencakup dampaknya pada tingkat individu dan kolektif. Kebijakan yang menguntungkan individu dalam koordinasi jadwal kerja-kehidupan mungkin mengorbankan rasa budaya kolektif.

Pemimpin perlu mempertimbangkan kepentingan atau hasil dari siapa yang mereka prioritaskan (hal ini sangat penting dalam pekerjaan saya baru-baru ini yang berkaitan dengan keamanan psikologis di masa-masa berisiko). Hal ini menjadi lebih mudah dilakukan setelah ada kejelasan dari 5 W.

Perlu diingat bahwa 5 W ini merupakan alat bantu untuk memastikan Anda memiliki semua informasi yang relevan untuk dijadikan dasar diskusi yang bermanfaat, dan tidak dapat dipandang sebagai elemen yang sepenuhnya independen. Ambil contoh keputusan tentang pekerjaan yang akan diberikan lebih banyak fleksibilitas. Meskipun ini tergolong dalam diskusi tentang di mana (berkaitan dengan lokasi), namun keputusan ini berdampak besar pada siapa yang akan mendapatkan manfaat, serta berkonsekuensi pada rasa keadilan dan kesetaraan di antara para karyawan.

Baca juga: 11 Strategi untuk Mengatasi Perangkap Pikiran di Dunia Kerja

Cara memiliki dialog tentang remote work

Merancang kebijakan dan praktik kerja yang efektif memerlukan partisipasi karyawan dan pemimpin. Ketika pemimpin mengambil keputusan tanpa melibatkan karyawan, mereka terkadang dianggap tidak peduli dengan karyawan mereka. Di sisi lain, karyawan yang menginginkan perubahan juga seharusnya dihargai dan didengarkan.

Percakapan berkelanjutan dan evaluasi terstruktur perlu dilakukan untuk mengatasi perubahan preferensi, kebutuhan, dan pasar yang terus berkembang. Selain itu, kita perlu ingat bahwa pandangan kita terhadap pekerjaan remote dapat dipengaruhi oleh hal baru yang menarik dan perbedaan yang kontras dalam cara kita meresponsnya. Hal Ini harus dipertimbangkan saat kita membuat keputusan tentang sejauh mana fleksibilitas kerja yang diberikan.

1. Mengatasi masalahnya

Pemimpin dan karyawan sama-sama ingin memperbaiki kebijakan kerja, terutama setelah pengalaman dan pandangan berharga yang muncul akibat pandemi. Agar bisa berdialog dengan baik, kita harus mengumpulkan semua data dan mempertimbangkan semua sudut pandang.

Namun, saat ini, dialog antara kedua belah pihak sering kali bertujuan untuk “menang” saja, dan hal ini menyulitkan kerjasama yang produktif. Dialog yang efektif hanya terjadi jika kedua belah pihak bersedia bersama-sama mengatasi masalah dan mengakui kesalahan jika ada. Tujuan dialog adalah belajar dan mencapai solusi yang lebih baik, dan untuk itu, kita perlu berbicara dengan jelas.

Selain itu, para pemimpin perlu menyadari bahwa perbedaan kekuasaan ada. Meskipun ada tindakan kolektif seperti pemogokan, tetap saja para pemimpin memiliki lebih banyak pilihan dan kontrol atas kebijakan yang diperdebatkan. Dalam situasi ini, penting bagi para pemimpin untuk tidak bersikap angkuh. Menunjukkan kerentanan dengan mengakui bahwa kita semua sedang mencari cara menghadapi situasi yang baru adalah langkah pertama yang kuat.

2. Tetapkan ekspektasi dan aturan dasar

Psikologi memberikan dua alat penting yang bisa sangat membantu diskusi Anda: rasa aman dan sikap berkembang.

Agar diskusi bermanfaat dan memperhatikan kebutuhan semua orang, penting bagi setiap orang merasa aman secara emosional. Karyawan perlu merasa yakin bahwa mereka tidak akan dihukum atau disalahkan karena berbagi masalah atau kesulitan yang mereka hadapi, misalnya tentang biaya hidup atau keluarga. Demikian juga, pimpinan juga harus bisa jujur tentang tekanan dan tantangan yang mereka alami, seperti persaingan atau perubahan pasar. Dengan menciptakan lingkungan yang aman, semua orang akan merasa lebih nyaman untuk berkontribusi dan berbagi ide-ide penting.

Selain itu, penting juga untuk sadar bahwa dunia bisnis selalu berubah. Ketika kebutuhan dan situasi perusahaan berubah, kebijakan dan pendekatan juga perlu dievaluasi ulang agar tetap sesuai dan relevan. Ini bukan tanda kegagalan, tetapi bagian dari proses belajar yang terus-menerus, yang disebut sikap berkembang. Dengan berpikiran terbuka terhadap perubahan, semua pihak dapat mencari solusi yang lebih baik dan lebih cocok.

Pastikan semua orang yang terlibat setuju bahwa diskusi ini adalah proses yang terus-menerus, bisa menyesuaikan, dan didasarkan pada prinsip-prinsip ini. Dengan demikian, hasil akhir dari diskusi akan lebih baik dan menguntungkan bagi semua pihak yang terlibat.

3. Jangan menggunakan bahasa hitam-putih

Salah satu hal yang menyulitkan percakapan produktif tentang pengaturan kerja adalah penggunaan bahasa yang terlalu sederhana dan menggeneralisasi. Faktanya, masalah ini memiliki banyak aspek yang kompleks, tidak bisa hanya dipahami dengan pandangan hitam-putih. Pernyataan seperti “remote work sama bagusnya dengan tatap muka” atau “Tatap muka lebih baik untuk budaya” seringkali terlalu simpel dan tidak mencerminkan realita.

Dalam berbagai diskusi, sering kali orang beranggapan bahwa mereka bisa memahami pandangan orang lain tanpa perlu mendapatkan informasi baru dari mereka. Tapi penelitian terbaru menunjukkan bahwa usaha untuk memahami pandangan orang lain seringkali tidak akurat. Untuk memahami dengan lebih baik, kita perlu berdialog dan bertukar informasi.

Para pemimpin harus lebih terbuka terhadap risiko ketika menggunakan pernyataan yang bersifat menyeluruh seperti “Bekerja dari rumah tidak bisa dihindari” atau “Pekerjaan remote merusak kreativitas”. Meskipun keduanya mungkin ada benarnya, mengandalkan pernyataan seperti itu hanya memperkuat pandangan sendiri tanpa menggerakkan dialog ke arah yang lebih konstruktif. Sebagai contoh, di salah satu komite eksekutif tempat saya bekerja, anggota diberikan kesempatan untuk memberikan sinyal peringatan atau protes ketika ada pernyataan yang terlalu umum. 

Dengan pendekatan ini, diskusi menjadi lebih sehat dan bermakna. Tentu saja, Anda tidak perlu menerapkan sistem yang sama, tapi penting bagi setiap orang, termasuk para pemimpin, untuk bertanggung jawab atas cara berbicara yang bisa menghambat percakapan yang produktif.

4. Berkomunikasi 

Tentukan waktu dan tempat yang tepat untuk berdiskusi secara bermakna. Ini adalah langkah penting, meskipun terlihat sederhana, namun seringkali menjadi yang paling sulit. Formalisasikan diskusi ini untuk memberikan legitimasi, dan luangkan waktu secara teratur untuk melakukannya. 

Meskipun tidak harus dijadwalkan setiap minggu, tetap konsisten dengan alokasi waktu yang Anda tentukan, karena hal ini membangun kepercayaan. Ingat, diskusi ini sangat penting dalam mengatasi fleksibilitas kerja dan kepemimpinan yang efektif secara keseluruhan.

Kesimpulan

Ahli yang aktif terlibat dalam kedua sisi debat tentang kerja dari rumah atau kembali ke kantor menunjukkan bahwa pendapat orang sangat berbeda. Masalahnya semakin rumit karena pemimpin dan karyawan punya kepentingan pribadi yang kuat terhadap hasilnya. 

Meskipun data tentang masalah ini banyak, satu hal yang pasti adalah tidak ada solusi yang mudah. Setiap keputusan memiliki keuntungan dan kerugian, dan orang-orang bisa melihatnya dari perspektif yang berbeda. Satu-satunya cara maju yang produktif adalah dengan para pemimpin melibatkan karyawan dan bekerja sama untuk mencari model terbaik bagi organisasi mereka.

Tim Insights Impact

Tim Insights Impact terdiri dari beragam individu profesional yang memiliki keahlian dan pengalaman dalam berbagai aspek bisnis. Bersama-sama, kami berkomitmen untuk memberikan wawasan mendalam dan pemahaman yang berharga tentang berbagai topik terkait strategi bisnis dan tren industri yang relevan.

Blog
WhatsApp Us