Semua orang pasti menginginkan kebahagiaan, namun meraih tujuan tersebut sering kali menjadi tantangan. Bagaimana kita dapat mencapai tujuan yang sulit ini? 

Pertanyaan ini kompleks, bahkan sebelum pandemi Covid-19. Saat ini, memikirkannya pun terasa sia-sia. Orang tua berjuang menyeimbangkan kerja jarak jauh dan pembelajaran online; sementara yang tinggal sendirian berusaha menjaga fokus dalam isolasi. Dalam realitas ini, di mana waktu diukur melalui layar dan rapat daring, bahkan mandi pun terasa sebagai pencapaian.

Perubahan tempat kerja menjadi pertemuan sistem hybrid mengakibatkan hilangnya momen tak terduga. Ucapan terima kasih dari rekan atau pujian dari atasan memiliki makna dalam lingkungan kerja, tetapi kini terasa seperti kenangan masa lalu. Kehilangan interaksi santai di sekitar pantry atau saat makan siang mengurangi peluang menjalin hubungan sosial yang berharga. Tanpa ikatan tersebut, sulit menemukan kegembiraan dalam pekerjaan. Bagaimana sebaiknya menghadapi situasi ini?

Sebuah saran sederhana yang dapat diterapkan adalah keramahan. Meskipun dalam beberapa tahun terakhir ini, nasihat manajemen cenderung berfokus pada upaya mempertahankan produktivitas, manfaat dari keramahan masih kerap terabaikan. Dengan mengambil langkah memberikan pujian dan pengakuan, kita sebenarnya memiliki kekuatan untuk mengubah dinamika tempat kerja jarak jauh yang sedang kita alami.

3 keuntungan keramahan di tempat kerja

Keramahan di tempat kerja membawa berbagai keuntungan yang tidak hanya memengaruhi lingkungan kerja, tetapi juga hasil kerja individu dan keseluruhan produktivitas tim. Berikut adalah tiga keuntungan utama dari menerapkan keramahan di lingkungan kerja:

Keuntungan keramahan di tempat kerja.

1. Mengurangi ‘burnout’

Mengamalkan kebaikan memiliki manfaat yang signifikan bagi rekan-rekan kita. Pengakuan di lingkungan kerja ternyata memiliki dampak positif dalam mengurangi tingkat burnout dan absensi karyawan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan mereka. Temuan ini didasarkan pada survei yang dilakukan oleh Gallup selama bertahun-tahun terhadap pekerja di Amerika Serikat.

Pentingnya pujian, kata pengakuan, dan apresiasi tidak bisa diabaikan, karena penelitian yang telah dilakukan selama puluhan tahun menunjukkan bahwa hal ini berkontribusi pada peningkatan kepuasan diri, harga diri, serta penilaian positif terhadap diri sendiri. Dampak positif dari pemberian pujian ini juga sejalan dengan pandangan alami kita terhadap diri sendiri yang positif, yang pada akhirnya memperkuat rasa harga diri kita.

Baca juga: Mengatasi Burnout: Pengertian & 5 Langkah Efektif

2. Memberikan kepuasan pekerjaan

Menerapkan kebaikan dalam hidup dapat memberikan rasa makna yang mendalam. Sebagai contoh, ketika kita menggunakan uang untuk membantu orang lain atau mengabdikan waktu secara sukarela, ini bukan hanya meningkatkan kesejahteraan kita, tetapi juga membawa kebahagiaan yang mendalam dan memberikan arti dalam hidup. Penelitian telah mengungkapkan hasil ini.

Bersikap baik dan ramah memiliki kelebihan mendalam karena melibatkan komitmen pada tujuan yang lebih besar daripada diri kita sendiri. Hal ini mempengaruhi cara pandang orang lain terhadap kita, secara positif meningkatkan reputasi kita, sekaligus memperkuat pandangan kita terhadap diri sendiri. 

Pandangan terhadap diri kita terbentuk melalui pengamatan terhadap tindakan dan perilaku kita. Tindakan kebaikan yang kita lakukan memperkuat keyakinan bahwa kita memiliki kapasitas untuk menjadi individu yang baik.

Terutama dalam konteks tempat kerja jarak jauh, di mana menciptakan momen kegembiraan bisa menjadi tantangan, pentingnya prinsip ini semakin terasa. Dalam lingkungan seperti itu, manfaat ini dapat menjadi faktor kunci yang berkontribusi pada kepuasan kerja jangka panjang.

3. Mendongkrak kebahagiaan

Menghadirkan kebahagiaan melalui memberi pujian ternyata lebih memuaskan daripada hanya menerima pujian. Langkah ini dapat kita wujudkan melalui kegiatan yang melibatkan partisipasi peserta. Salah satu metodenya adalah dengan meminta setiap peserta untuk merangkai kata-kata tentang diri mereka sendiri dan berbagi pandangan positif mengenai sesama peserta. 

Tindakan berikutnya adalah meminta salah satu peserta untuk secara jujur mengutarakan apresiasi mereka terhadap kualitas atau aspek tertentu dari rekan satu tim setelah mendengarkan pendapat tersebut. Penelitian telah konsisten menunjukkan bahwa memberikan pujian secara aktif justru memiliki efek positif yang lebih besar terhadap rasa bahagia, dibandingkan dengan hanya menerima pujian. Namun ironisnya, banyak orang belum sepenuhnya menyadari manfaat hedonis yang bisa diperoleh melalui sikap baik hati ini.

Memberikan pujian memiliki peran penting dalam meningkatkan kebahagiaan kita. Ini terkait dengan aspek yang sering terabaikan, hubungan sosial. Penelitian menunjukkan bahwa memberikan pujian dapat memperkuat ikatan sosial lebih kuat daripada hanya menerima pujian. Ini terjadi karena memberikan pujian mendorong kita untuk fokus pada sisi positif orang lain. 

Memberi pujian dengan tulus memerlukan kemampuan mengamati dan menghargai aspek positif individu lain, yang merupakan langkah awal penting dalam membentuk ikatan emosional. Pujian bukan hanya kata-kata, tetapi juga berfungsi sebagai perekat sosial yang meningkatkan ikatan dan membawa nuansa positif dalam hubungan antar individu. Secara keseluruhan, memberi pujian berpotensi meningkatkan kebahagiaan melalui peningkatan konektivitas dan optimisme dalam interaksi sosial.

Baca juga: Komunikasi Kerja Remote: 3 Faktor yang Mendorong Kesuksesan

Mengapa kita cenderung ragu untuk bersikap ramah?

Gagasan untuk mendekati seseorang dan berbicara dengan kata-kata positif sering kali dapat menimbulkan rasa cemas dan ketidaknyamanan dalam interaksi sosial, demikian hasil penelitian terbaru yang dilakukan oleh Erica Boothby dan Vanesa Bohns. Namun, ironisnya, kami berasumsi bahwa orang akan merasa tidak nyaman dan terganggu dengan menerima pujian, padahal yang terjadi adalah sebaliknya.

Selain hambatan psikologis, tantangan lain muncul dari remote work yang menghambat ekspresi kebaikan dan pengakuan spontan. Sebelum pandemi, pengakuan umumnya terjadi melalui program formal di tempat kerja, sementara interaksi tak terencana dapat menghasilkan ungkapan terima kasih atau pujian singkat. Namun, dalam rapat melalui platform seperti Zoom, terikat pada agenda yang ketat mengurangi peluang untuk menyampaikan pujian atau hal-hal positif.

Meski demikian, penting bagi organisasi untuk mendorong praktik kebaikan secara aktif. Di lingkungan kerja di mana budaya keramahan menjadi norma, manfaatnya dapat berlipat ganda dengan cepat. Studi telah membuktikan bahwa saat seseorang menerima perlakuan baik, kecenderungan mereka untuk memberikan perlakuan serupa juga meningkat. 

Kebiasaan ini tidak hanya berlaku untuk interaksi dengan individu yang sama sebelumnya, melainkan juga untuk orang-orang yang baru ditemui. Hasilnya, semakin terbentuklah budaya kerja yang cenderung inklusif dan penuh kerjasama. 

Sebuah penelitian penting yang menganalisis lebih dari 3.500 unit bisnis dan melibatkan lebih dari 50.000 individu menemukan bahwa tindakan sopan, tolong-menolong, dan pengakuan memiliki kaitan dengan pencapaian tujuan inti organisasi. 

Tingkat tinggi perilaku ini menjadi indikator produktivitas yang lebih baik, efisiensi yang meningkat, serta tingkat pergantian karyawan yang lebih rendah. Ketika pimpinan dan anggota tim saling berinteraksi dengan sikap baik, ini secara positif mempengaruhi budaya kolaborasi dan inovasi di dalam organisasi.

3 cara untuk menerakpan keramahan di tempat kerja

Setelah memahami betapa pentingnya menciptakan lingkungan kerja yang ramah, mari kita eksplorasi tiga cara efektif untuk menerapkannya di tempat kerja.

Menerapkan keramahan di tempat kerja.

1. Memimpin dengan contoh

Secara alami, semua orang sensitif terhadap perilaku anggota tim yang memiliki status tinggi. Ketika seorang pemimpin memberikan pujian dan penghargaan kepada para karyawan, hal ini cenderung memotivasi anggota tim untuk meneladani perilaku tersebut. Hasilnya, norma kebaikan terbentuk dalam tim, menciptakan lingkungan yang positif dan produktif.

2. Tetapkan waktu untuk saling menghargai

Para pemimpin memiliki kesempatan untuk meluangkan waktu selama rapat Zoom untuk melakukan “putaran kebaikan.” Dalam putaran ini, anggota tim diberi kesempatan untuk saling mengakui kontribusi dan kerja keras satu sama lain. Meskipun memerlukan waktu yang tidak banyak – bahkan hanya beberapa menit setiap minggu – manfaatnya sangat besar. 

Tidak terbantahkan bahwa hanya beberapa menit semacam ini mampu meningkatkan semangat dan memperkuat hubungan sosial di antara tim, terutama dalam konteks penyelesaian proyek-proyek yang dilakukan melalui Zoom, yang seringkali melibatkan kerja sama dalam jangka waktu berbulan-bulan.

3. Memberikan penghargaan atas keramahan

Pertimbangkan pemberian bonus kecil. Perusahaan, seperti Google, telah menggunakan sistem “bonus rekan kerja” untuk mendorong karyawan saling memberikan penghargaan atas kinerja yang efektif dengan mengirimkan sejumlah uang kecil dari dana organisasi. 

Bahkan beberapa dolar saja dapat memberikan dampak positif. Penelitian menunjukkan bahwa orang cenderung lebih menghargai tindakan kebaikan yang kecil dibandingkan dengan yang besar. Alternatifnya, kartu hadiah atau hadiah kecil yang dikirim melalui pos juga dapat digunakan. Hanya dengan mengetahui bahwa seseorang dihargai, dapat memicu manfaat psikologis dari perbuatan baik tanpa memberikan dampak besar pada organisasi secara finansial.

Kesimpulan

Kekuatan kebaikan memiliki potensi untuk mengurangi dampak buruk dari dunia sosial yang semakin terhubung secara online. Keramahan  merupakan keterampilan kepemimpinan yang vital, mampu mengalir melalui individu, sambil secara bersamaan mengubah budaya di lingkungan tempat kerja.

Blog
WhatsApp Us