Impact.

Menu Close

E-commerce adalah: Contoh & 7 Perbedaannya dengan Marketplace

IN THIS ARTICLE

SHARE ARTIKEL INI:

Berkembangnya teknologi saat ini telah memudahkan konsumen untuk berbelanja secara online. E-commerce adalah salah satu sektor yang telah menjadi pilihan para pemilik usaha untuk mengembangkan bisnisnya. Berbagai jenis e-commerce telah hadir untuk memenuhi kebutuhan pelanggan maupun penjual.

Simak artikel ini untuk  mempelajari lebih lanjut terkait pengertian, jenis, dan contoh e-commerce, hingga perbedaannya dengan marketplace!

E-commerce adalah

e-commerce adalah

E-commerce atau electronic commerce adalah segala aktivitas perdagangan meliputi aktivitas pemasaran hingga distribusi yang dilakukan melalui media elektronik. Di Indonesia e-commerce dapat diakses melalui berbagai sarana, mulai dari televisi, telepon, dan hingga saat ini yang marak digunakan, yaitu internet. Produk yang dijual pun beraneka ragam, mulai dari barang hingga jasa dapat ditemukan di e-commerce.

Selama pandemi Covid-19 hingga saat ini, masyarakat Indonesia lebih banyak melakukan transaksi jual beli secara online, salah satunya melalui e-commerce. Oleh sebab itu, tidak sedikit pemilik usaha yang sudah beralih ke ranah digital untuk menjangkau lebih banyak pelanggan.

Jenis-jenis e-commerce adalah

E-commerce adalah: Pengertian, Contoh dan Perbedaan dengan Marketplace

Business-to-Business (B2B)

B2B adalah jenis e-commerce dengan cara pemilik usaha menjual produk atau jasa ke pemilik usaha lainnya. Pembelian produk maupun jasa biasa dilakukan dalam jumlah besar, sehingga menjadikan B2B sebagai salah satu jenis e-commerce paling besar. B2B akan berfokus pada jumlah dan kuantitas barang yang dijual dibandingkan dengan jenis barang yang dijual.

Business-to-Customer (B2C)

B2C adalah jenis e-commerce yang paling banyak dijumpai karena cara kerjanya dengan menjual produknya langsung ke konsumen. Produsen akan langsung mempromosikan dan menjual produknya ke konsumen, sehingga konsumen dapat membeli tanpa perantara. Hampir serupa dengan jual beli secara ecer, yang membedakannya adalah transaksi B2C dilakukan secara online.

Consumer-to-Consumer (C2C)

C2C adalah proses transaksi yang memungkinan konsumen menjual produk atau jasa langsung ke konsumen lainnya. Biasanya terdapat platform tertentu yang menyediakan produk milik konsumen yang akan dijual kembali, seperti OLX, kaskus, dan lainnya.

Consumer-to-Business (C2B)

C2B merupakan kebalikan dari B2C di mana konsumen akan menjual produk ke produsen. Produsen biasanya membutuhkan jasa atau produk konsumen sebagai penunjang bisnis, contohnya konsumen menjual logo ke perusahaan sebagai identitas bisnis. Bukan sekadar mendapatkan bayaran langsung, namun konsumen juga dapat dibayar dengan pemberian produk atau layanan gratis dari produsen.

Consumer-to-Administration (C2A)

C2A merupakan proses transaksi konsumen menawarkan produk atau jasanya ke pihak pemerintah. E-commerce jenis ini jarang ditemui di Indonesia dan produk yang ditawarkan biasanya berupa jasa.

Business-to-Public Administration (B2A)

B2A adalah jenis transaksi e-commerce dimana produsen menawarkan produk atau jasa ke lembaga pemerintah. Proses transaksinya dilakukan dengan cara tender, yaitu para pemilik usaha akan menawarkan produk dan pihak pemerintahan akan memilih produk dengan harga terbaik. Salah satu contoh Produk yang ditawarkan adalah pembuatan website atau pembuatan baju dalam jumlah besar.

Online-to-Offline (O2O)

O2O adalah aktivitas jual beli pada e-commerce yang dilakukan melalui dua channel, yaitu offline dan online. Contoh  transaksi yang saat ini marak ditemui adalah layanan ojek online yang menggunakan jaringan sistem online namun eksekusinya dapat dilakukan secara online maupun offline.

Manfaat e-commerce adalah

e-commerce adalah

E-commerce telah membawa perubahan dalam dunia jual beli dan masyarakat Indonesia telah merasakan manfaatnya baik dirasakan oleh pelanggan maupun penjual. Terdapat kelebihan dalam penggunaan e-commerce pada proses jual beli, di antaranya adalah:

Biaya operasional yang lebih rendah

Berkat adanya e-commerce, para penjual tidak perlu memiliki toko fisik untuk menjual produknya. Penjual pun dapat mengurangi biaya operasional yang biasanya dikeluarkan, seperti membayar karyawan untuk menjaga toko dan lainya. Semua transaksi dilakukan secara online, sehingga akan mengurangi aktivitas yang dilakukan secara tatap muka.

Menjangkau lebih banyak pelanggan

Berkat adanya e-commerce, para penjual tidak perlu memiliki toko fisik untuk menjual produknya. Penjual pun dapat mengurangi biaya operasional yang biasanya dikeluarkan, seperti membayar karyawan untuk menjaga toko dan lainya. Semua transaksi dilakukan secara online, sehingga akan mengurangi aktivitas yang dilakukan secara tatap muka.

Kegiatan operasional yang dilakukan secara online juga mendorong para pemilik usaha untuk melakukan pemasaran secara online. Pemilik usaha dapat melakukan branding melalui analisis pelanggan dari modul Impact CRM. Modul ini akan memberikan informasi terkait  data pelanggan dan preferensi pelanggan dalam membeli produk.

Mengembangkan bisnis lebih mudah

Ketika bisnis sudah semakin besar dan memiliki banyak pelanggan, bisnis Anda akan lebih mudah untuk berkembang bahkan hingga membangun toko offline. Penjualan yang meningkat juga akan mengembangkan skala operasional, sehingga produktivitas meningkat dan profit pun meningkat. Tidak sedikit pebisnis di Indonesia yang sudah mengembangkan bisnisnya melalui e-commerce karena kemudahan yang ditawarkan oleh platform ini.

Selain keuntungan, terdapat kekurangan dari adanya e-commerce yang terkadang menjadi kendala bagi pebisnis maupun pelanggan. Kekurangan yang pertama adalah pelanggan tidak dapat mencoba produk tersebut secara langsung dan terkadang kesalahan membeli produk akan berpengaruh pada rating penjual. Oleh sebab itu, penting bagi pemilik usaha untuk memberikan deskripsi se-detail mungkin agar kesalahan pembelian dapat dihindari.

Kekurangan selanjutnya adalah ketika teknologi yang digunakan sedang dalam keadaan down, proses jual beli akan terhambat dan jika berlangsung cukup lama dapat mengurangi pendapatan pada hari tersebut. Selain itu, data yang tersimpan di internet rawan untuk tersebar, sehingga penting bagi pemilik usaha untuk memastikan e-commerce yang digunakan memiliki perlindungan data yang memadai.

Contoh e-commerce adalah

e-commerce adalah

Setiap jenis e-commerce memiki contoh usahanya masing-masing bergantung dengan hubungan antara penjual dan pembeli. Berikut ini adalah contoh usaha dari e-commerce yang biasa kita jumpai!

Retail

Retail adalah salah satu contoh e-commerce yang menjual produk langsung kepada konsumen. Biasanya retail membeli produk dari wholesale atau langsung dari produsen sesuai dengan kesepakatan yang terjadi. Retail merupakan salah satu contoh dari jenis business-to-consumer.

Grosir

Berbeda dengan retail, grosir menjual produk kepada retail dan selanjutnya retail akan menjual produk tersebut ke konsumen. Pemilik grosir membeli produk langsung ke produsen dalam jumlah banyak dan menjualnya dengan harga yang berbeda. Grosir adalah contoh dari e-commerce business-to-business dan banyak dijumpai secara onlinemaupun secara offline.

Dropshipping

Dropshipper tidak memiliki barang di gudangnya dan mereka akan memanfaatkan pihak ketiga untuk mengirim barang tersebut ke konsumen. Biasanya dropshipping dilakukan atas kerja sama dengan wholesale maupun retail dan seorang dropshipper akan melakukan promosi sesuai dengan produk yang dijual oleh supplier.

Crowdfunding

Crowdfunding dilakukan dengan pengumpulan dana dari konsumen untuk membantu pengembangan usaha, terutama pada usaha start up. Biasanya konsumen akan memberikan dananya dengan melihat dari proposal dan tujuan usaha yang jelas. 

Subscription

Subscription bekerja dengan cara membeli suatu produk atau jasa dengan cara membayar pada periode tertentu baik harian, bulanan, maupun tahunan. Konsumen akan berlangganan pada produk atau jasa selama periode berlangsung. Selain itu, konsumen dapat membatalkan langganan sewaktu-waktu jika dirasa sudah tidak lagi ingin mendapatkan manfaat dari produk atau jasa tersebut.

Physical products

Contoh selanjutnya adalah barang fisik yang membutuhkan inventory untuk menyimpan barang tersebut. Konsumen akan dikirimkan produk yang berada di gudang ketika transaksi jual beli terjadi.

Modul inventory dari Impact dapat melacak ketersediaan barang pada gudang secara otomatis. Jadwal pembelian juga dapat dilakukan secara otomatis melalui modul ini, sehingga ketika persediaan barang sudah habis stok dapat segera terisi.

Digital products

Produk digital juga tersedia di e-commerce dan saat ini tidak sedikit produk digital yang dijual secara online. Benefit yang didapatkan adalah konsumen dapat mengunduh produk tersebut maupun menggunakan produk tersebut dengan membeli lisensi.

Service

Selain produk, e-commerce juga menyediakan jasa untuk dibeli oleh konsumen secara online. Dengan membeli service, konsumen akan mendapatkan hasil keterampilan yang dimiliki penjual. Service yang dibeli biasanya merupakan waktu maupun keterampilan dari penyedia layanan tersebut.

Perbedaan Marketplace dan E-commerce adalah

Marketplace dan e-commerce dikenal sebagai platform jual beli online yang banyak dimanfaatkan oleh pemilik usaha. Walaupun memiliki fungsi yang hampir sama, namun kedua istilah tersebut memiliki perbedaan. Perbedaan marketplace dan e-commerce dari berbagai aspek adalah sebagai berikut:

Perbedaan

E-commerce

Marketplace

Biaya

Biaya yang dikeluarkan lebih besar karena harus membuat situs web sendiri.

Biaya yang dikeluarkan tidak begitu besar karena platform jual beli sudah tersedia.

Jenis produk

Produk dan jasa yang dijual hanya berasal dari brand perusahaan sendiri.

Tersedia berbagai jenis merek untuk berbagai produk maupun jasa.

Jangkauan

Lebih mudah menjangkau pelanggan karena situs web dibuat berdasarkan preferensi pelanggan.

Lebih sulit menjangkau pelanggan karena banyaknya brand lain yang menjual produk yang sama sehingga lebih sulit untuk membangun loyalitas pada pelanggan.

Persaingan

Persaingan hampir tidak ada hanya terdapat persaingan di luar website.

Persaingan cukup ketat karena terdapat berbagai toko yang memiliki produk yang sama dengan keunggulannya masing-masing pada satu platform.

Promosi

Promosi dapat dilakukan kapan saja dan lebih fleksibel karena tidak melibatkan brand lain.

Promosi memerlukan pihak ketiga dan membutuhkan lebih banyak usaha dan biaya untuk memikat lebih banyak pelanggan.

Inventory

E-commerce memiliki inventory sendiri sehingga ketersediaan produk pada website terintegrasi dengan data di inventory.

Marketplace tidak memiliki inventory, melainkan brand atau perusahaan sendiri yang menyediakan inventory untuk menyimpan masing-masing produk.

Brand

Membutuhkan waktu dan usaha lebih untuk mendapatkan pengakuan brand dari pelanggan.

Berbagai marketplace sudah diakui oleh pelanggan dan pemilik usaha dapat memanfaatkan identitas merek marketplace untuk menawarkan produk.

Kesimpulan

E-commerce menjadi sarana bagi para penjual untuk mengembangkan bisnisnya dengan berbagai kegiatan operasional yang dilakukan secara online. Perubahan perilaku konsumen menjadi salah satu faktor perbelanjaan online semakin meningkat saat ini. Oleh sebab itu, para pemilik usaha dapat melakukan transformasi digital untuk menjangkau lebih banyak pelanggan sekaligus meningkatkan profit.

Impact wholesale distribution memiliki fitur e-commerce yang dapat membantu Anda dalam optimasi pembuatan online stores. E-commerce dari Impact dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan perusahaan, sehingga fitur-fitur yang disediakan dapat digunakan secara optimal. Selain itu, integrasi data antar tempat dan departemen di perusahaan dapat dilakukan secara otomatis dan memberikan laporan secara real-time.