Impact.

Menu Close

5 Faktor Penentu Efektivitas Strategi Budaya Organisasi

IN THIS ARTICLE

SHARE ARTIKEL INI:

Konteks menjadi penting ketika menilai keefektifan strategi budaya. Pemimpin harus secara bersamaan mempertimbangkan gaya budaya dan kondisi perusahaan serta pasar jika mereka ingin budaya membantu mendorong kinerja. Kawasan dan industri adalah salah satu faktor eksternal yang paling utama untuk diingat, selain itu juga terdapat faktor internal berupa strategi, kepemimpinan, dan struktur organisasi.

Faktor eksternal efektivitas strategi budaya

Region (Kawasan/Wilayah)

Nilai-nilai budaya nasional dan daerah di mana perusahaan berlokasi dapat mempengaruhi pola perilaku di dalamnya. Geert Hofstede bersama penulis studi GLOBE menemukan bahwa perusahaan yang beroperasi di negara-negara yang dicirikan oleh kolektivisme institusional tingkat tinggi (didefinisikan sebagai menghargai kesetaraan dalam kelompok dan mendorong distribusi sumber daya secara kolektif), seperti Prancis dan Brasil, memiliki budaya yang menekankan pada order dan safety.

Perusahaan yang beroperasi di negara-negara dengan tingkat penghindaran ketidakpastian yang rendah (yaitu, mereka terbuka untuk ambiguitas dan ketidakpastian masa depan), seperti Amerika Serikat dan Australia, lebih menekankan pada learning, purpose, dan enjoyment. Pengaruh eksternal seperti itu merupakan pertimbangan penting saat bekerja lintas wilayah atau dalam merancang budaya yang sesuai.

Industri

Memvariasikan atribut budaya mungkin diperlukan untuk menyesuaikan peraturan khusus berdasarkan industri dan kebutuhan pelanggan. Perbandingan yang dilakukan terhadap perusahaan lintas industri mengungkapkan bukti bahwa budaya akan beradaptasi seiring waktu untuk memenuhi tuntutan industri dari perusahaan.

Budaya perusahaan dalam jasa keuangan lebih cenderung menekankan pada safety. Mengingat peraturan yang diberlakukan terhadap krisis keuangan semakin kompleks, pekerjaan yang hati-hati dan manajemen risiko menjadi lebih penting dari sebelumnya.. Sebaliknya, perusahaan nirlaba (non-profit) jauh lebih berorientasi pada purpose, yang dapat memperkuat komitmen mereka terhadap misi dengan menyelaraskan perilaku karyawan dengan tujuan bersama yang dimiliki.

Source: Harvard Business Review; Context, Conditions and Culture

Faktor internal efektivitas strategi budaya

Strategi

Agar manfaat yang diinginkan terwujud, budaya harus mendukung tujuan dan rencana strategis bisnis. Sebagai contoh, Harvard Business Review telah menemukan adanya perbedaan antara perusahaan yang menerapkan strategi diferensiasi dan perusahaan yang menerapkan strategi cost leadership. Meskipun results dan caring adalah karakteristik budaya utama pada kedua jenis perusahaan, enjoyment, learning, dan purpose lebih cocok untuk diferensiasi, sedangkan order dan otoritas lebih cocok untuk cost leadership.

Budaya fleksibel yang menekankan pada enjoyment dan learning dapat memacu inovasi produk di perusahaan, sedangkan budaya yang stabil dan dapat diprediksi, yang menekankan pada order dan authority dapat membantu mempertahankan efisiensi operasional untuk menjaga biaya tetap rendah.

Pertimbangan strategis yang terkait dengan siklus hidup perusahaan juga terkait dengan budaya. Perusahaan dengan strategi yang berusaha untuk menstabilkan atau mempertahankan posisi pasarnya mengutamakan learning, sedangkan perusahaan yang beroperasi dengan strategi turnaround cenderung mengutamakan order dan safety dalam upayanya mengarahkan atau mengatur kembali unit-unit yang tidak menguntungkan.

Source: Harvard Business Review; Context, Conditions and Culture

Leadership (Kepemimpinan)

Menjadi penting untuk menyelaraskan budaya dan kepemimpinan atau sosok pemimpin itu sendiri. Karakter dan perilaku seorang CEO dan eksekutif dapat memiliki efek besar pada budaya perusahaan. Sebaliknya, budaya berfungsi untuk membatasi atau meningkatkan kinerja para pemimpin.

Data HBR mengenai aktivitas perekrutan eksekutif menunjukkan bahwa kurangnya kesesuaian budaya berpengaruh sebesar 68% terhadap kegagalan karyawan baru di tingkat posisi senior. Bagi pemimpin, kecocokan budaya sama pentingnya dengan kemampuan dan pengalaman.

Struktur organisasi

Dalam banyak kasus, struktur dan sistem yang dimiliki perusahaan akan mengikuti budaya. Misalnya, perusahaan yang memprioritaskan kerja tim dan kolaborasi mungkin merancang sistem insentif bersama dengan penghargaan atas upaya kolektif. Namun, pilihan struktur organisasi yang sudah lama dapat mengarah pada pembentukan budaya. Karena yang terakhir jauh lebih sulit untuk diubah, disarankan agar perubahan struktural diselaraskan dengan budaya yang diinginkan.

Kesimpulan

Saat menilai keefektifan strategi budaya perusahaan, pemimpin perusahaan harus mengingat dua faktor eksternal yang saling berhubungan erat, yaitu: region (kawasan) dan industri, serta tiga pertimbangan internal: keselarasan dengan strategi, kepemimpinan, dan struktur organisasi.