Di era digital, perusahaan menengah di Indonesia dituntut untuk bekerja lebih efisien, cepat, dan terintegrasi. Sistem ERP (Enterprise Resource Planning) hadir sebagai solusi untuk menyatukan berbagai proses bisnis—seperti akuntansi, penjualan, inventori, dan HR—dalam satu platform.

ERP bukan lagi hanya untuk perusahaan besar. Saat ini, banyak sistem ERP yang lebih terjangkau dan bisa disesuaikan dengan kebutuhan bisnis lokal. Namun, banyak implementasi gagal karena salah pilih vendor, kurang persiapan, atau tidak paham proses internal.

Artikel ini akan membantu Anda memahami cara kerja ERP, manfaatnya, rekomendasi vendor terbaik di Indonesia, serta tips memilih vendor yang tepat.

Apa itu sistem ERP?

Sistem ERP (Enterprise Resource Planning) adalah sistem yang mengintegrasikan berbagai proses inti bisnis—seperti keuangan, penjualan, pembelian, inventori, produksi, dan SDM—dalam satu platform terpusat. Tujuannya adalah menyatukan data dan alur kerja agar perusahaan dapat bekerja lebih efisien dan akurat.

Manfaat sistem ERP

  1. Efisiensi Operasional: Minim duplikasi data & pekerjaan manual.
  2. Visibilitas Data Real-Time: Semua data bisnis tersedia secara langsung.
  3. Pengambilan Keputusan Lebih Cepat: Laporan otomatis & akurat.
  4. Skalabilitas: Sistem tumbuh bersama bisnis.
  5. Kepatuhan & Kontrol Internal: Proses lebih terstandar.

Jenis-Jenis Sistem ERP

  1. ERP On-Premise: Diinstal di server internal. Cocok untuk perusahaan besar dengan tim IT kuat.
  2. ERP Cloud/SaaS: Berbasis langganan & diakses online. Lebih fleksibel dan hemat biaya awal.
  3. ERP Hybrid: Gabungan cloud dan on-premise, untuk kebutuhan khusus.

Contoh ERP

Contoh ERP yang populer di Indonesia adalah Impact, SAP, Microsoft Dynamics, Oracle NetSuite, dan Odoo.

Kapan Perusahaan Membutuhkan ERP?

Tanda-tanda perusahaan perlu ERP:

  1. Banyak proses masih manual dan spreadsheet-based
  2. Data tidak sinkron antar departemen
  3. Sulit membuat laporan keuangan & operasional
  4. Pertumbuhan bisnis mulai tidak terkontrol
  5. Terlalu banyak software terpisah yang tidak terintegrasi

Jika perusahaan Anda mengalami dua atau lebih dari kondisi di atas, saatnya pertimbangkan ERP.

Baca juga: 9 ERP Software Terbaik Indonesia 2025

Cara kerja ERP

Modul utama ERP

  • Akuntansi: Modul untuk mengelola transaksi keuangan dan menghasilkan laporan real-time yang akurat
  • Inventory management: Modul untuk melacak tingkat persediaan secara real-time dan mengoptimalkan pengelolaan stok
  • Purchasing: Modul untuk mengelola proses pemilihan supplier, pembuatan purchase order, dan pengelolaan pengiriman
  • Penjualan: Modul untuk mengelola customer, pembuatan sales order, dan mengotomatisasi pembuatan delivery order

Modul tambahan ERP

  • Supply chain management: Modul untuk merencanakan dan mengelola keluar masuknya barang, seperti warehouse management system, fleet management, transportation management
  • Manufaktur: Modul untuk merencanakan dan mengelola bahan baku dan proses produksi, seperti material requirements planning, manufacturing execution system, quality assurance, machinery maintenance,
  • Omnichannel: Modul untuk mengotomatisasi proses pembelian customer, seperti customer relationship management, point of sale, eCommerce
  • Manajemen proyek: Modul untuk mengelola proyek, budgeting, task, dan laporan progress
  • HR: Modul untuk mengelola karyawan, seperti database karyawan, kehadiran, timesheet, reimbursement, payroll, rekrutmen, appraisal

Cara kerja sistem ERP

Sistem ERP bekerja dengan mengintegrasikan seluruh proses bisnis ke dalam satu platform terpusat. Semua data disimpan dalam satu database sehingga informasi antar divisi selalu sinkron. ERP menghilangkan pekerjaan manual yang berulang dan mempercepat alur operasional perusahaan.

Proses bisnis yang diintegrasikan dan diotomatisasi adalah:

  1. Procure to Pay (Pembelian): Permintaan pembelian → persetujuan → pemesanan ke supplier → penerimaan barang → pencatatan tagihan → pembayaran.
  2. Order to Cash (Penjualan): Penawaran → pesanan → pengecekan stok → pengiriman → faktur → pencatatan pembayaran.
  3. Inventory Management: Penerimaan barang → mutasi antar gudang → pengendalian stok minimum → audit stok → pelaporan stok real-time.
  4. Record to Report (Keuangan): Transaksi harian → pembukuan otomatis → laporan keuangan → analisis dan pelaporan pajak.
  5. Manufacturing to Delivery (Produksi): Perencanaan produksi → pembuatan work order → penggunaan bahan baku → produksi → QC → pengiriman.
  6. Hire to Retire (HR): Rekrutmen → onboarding → absensi & cuti → penggajian → penilaian → offboarding.

Implementasi sistem ERP

Tantangan implementasi ERP dan solusinya

Menurut hasil survey yang dilakukan oleh Deloitte, 40-90% proyek implementasi ERP gagal memenuhi tujuannya. Beberapa penyebab utamanya adalah:

  1. Proses Bisnis Tidak Terdokumentasi atau Tidak Standar
    • Masalah: Banyak perusahaan menengah menjalankan proses berdasarkan kebiasaan, bukan SOP tertulis.
    • Dampak: ERP sulit dikonfigurasi karena vendor tidak mendapat gambaran jelas tentang alur kerja yang sebenarnya.
    • Solusi: Lakukan proses mapping dan dokumentasi alur kerja sebelum implementasi dimulai.
  2. Kurangnya Dukungan dari Direksi
    • Masalah: Pimpinan hanya ikut di awal saat memilih vendor, lalu menyerahkan semuanya ke tim IT atau vendor.
    • Dampak: Keputusan penting tertunda, proses berjalan tanpa arah, dan pengguna tidak merasa proyek ini prioritas.
    • Solusi: Direksi perlu menunjuk sponsor proyek dan aktif memantau progres.
  3. Penolakan dari Pengguna (User Resistance)
    • Masalah: Karyawan takut kehilangan kontrol, merasa sistem baru lebih rumit, atau tidak paham manfaat ERP.
    • Dampak: Penggunaan sistem rendah, terjadi sabotase halus, dan banyak proses tetap dilakukan manual.
    • Solusi: Libatkan pengguna sejak awal, berikan training berbasis peran, dan tunjukkan benefit nyata bagi pengguna.
  4. Data Lama yang Berantakan
    • Masalah: Data pelanggan, stok, dan transaksi dari sistem lama tidak lengkap, tidak konsisten, atau duplikat.
    • Dampak: Kesalahan saat migrasi data→ ERP menghasilkan laporan salah → kepercayaan terhadap sistem hilang.
    • Solusi: Bersihkan dan validasi data sebelum migrasi. Jangan buru-buru go-live tanpa data akurat.
  5. Terlalu Banyak Kustomisasi
    • Masalah: Perusahaan mencoba menyesuaikan ERP agar menyerupai sistem lama, tanpa mempertimbangkan efisiensi proses baru.
    • Dampak: Waktu implementasi molor, biaya membengkak, dan sistem jadi rumit serta sulit di-upgrade.
    • Solusi: Gunakan proses standar ERP sebanyak mungkin, dan hanya kustomisasi untuk hal yang benar-benar krusial.
  6. Komunikasi Buruk antara Tim & Vendor
    • Masalah: Tim internal tidak tahu bagaimana menyampaikan kebutuhan, sedangkan vendor tidak memahami konteks industri.
    • Dampak: Kebutuhan salah diinterpretasi → modul tidak sesuai ekspektasi → revisi berulang.
    • Solusi: Gunakan dokumen blueprint, checklist persetujuan, dan rapat rutin untuk sinkronisasi.

Langkah-langkah implementasi ERP yang benar

Implementasi sistem ERP yang baik melibatkan pendekatan bertahap dan kolaboratif. Berikut urutan idealnya:

  1. Business Process Mapping: Identifikasi proses bisnis saat ini dan titik lemahnya.
  2. ERP Selection: Pilih sistem & vendor yang paling sesuai dengan kebutuhan dan budget.
  3. Blueprinting: Dokumentasi alur sistem & kebutuhan kustomisasi berdasarkan proses nyata.
  4. Data Preparation & Migration: Bersihkan, susun, dan migrasikan data penting dari sistem lama.
  5. Development & Configuration: Sesuaikan modul ERP sesuai kebutuhan, tanpa over-customization.
  6. Testing (UAT): Uji coba proses end-to-end oleh tim internal sebelum go-live.
  7. Training Pengguna: Latih pengguna akhir secara intensif, disesuaikan dengan peran masing-masing.
  8. Go-Live: Jalankan sistem secara resmi, bisa dilakukan bertahap (modul per modul).
  9. Support & Continuous Improvement: Lanjutkan dukungan teknis dan review berkala proses bisnis.

Best practices implementasi ERP

  1. Tunjuk Project Manager Internal yang Kompeten: Tanpa pengelola proyek dari pihak internal, komunikasi antara vendor dan tim pengguna akan terputus. Vendor tidak akan mengerti kebutuhan sebenarnya, dan pengguna tidak merasa dilibatkan.
  2. Libatkan End-User Sejak Tahap Awal: Banyak implementasi gagal karena user merasa “dipaksa” menggunakan sistem yang tidak mereka pahami atau setuju.
  3. Fokus ke Modul Prioritas, Jangan Sekaligus Semua: Memulai semua modul ERP sekaligus meningkatkan risiko gagal dan menambah beban tim. Apalagi jika perusahaan belum terbiasa dengan sistem formal.
  4. Lakukan Data Cleanup Sebelum Migrasi: ERP hanya sebaik data yang dimasukkan. Data duplikat, salah format, atau tidak lengkap akan menghasilkan laporan yang menyesatkan.
  5. Uji Coba Sistem dengan Data Nyata (Bukan Dummy): Pengujian dengan data dummy seringkali tidak menggambarkan realita proses sehari-hari. Banyak error muncul hanya saat sistem digunakan secara nyata.
  6. Sediakan Dukungan Pasca-Go Live: Setelah sistem berjalan, biasanya akan muncul banyak pertanyaan atau kendala. Tanpa dukungan teknis yang cepat, user akan frustasi dan kembali ke Excel/manual.
  7. Jangan Kejar Kesempurnaan Sejak Awal: Banyak perusahaan terlalu fokus pada semua detail kecil sebelum go-live, akhirnya proyek mundur dan kehilangan momentum.

Baca juga: 5 Vendor ERP Terbaik di Indonesia dan Cara Memilihnya

Kesimpulan

Memilih sistem ERP yang tepat dapat membantu Anda mencapai tujuan bisnis dengan lebih efisien, namun proses itu disertai dengan tantangan. Tetapi, jika Anda bisa mengatasi tantangan tersebut, Anda bisa mendapatkan manfaat yang jelas untuk mendorong pertumbuhan perusahaan ke level selanjutnya. 

Jika Anda memerlukan bantuan memilih, kami menawarkan konsultasi gratis. Kami adalah perusahaan teknologi dan konsultan manajemen yang telah membantu ribuan perusahaan di Indonesia dalam memilih software yang tepat. 

Author

Author: David A.

David is an ex-PwC with 15 years of experience in banking, corporate finance, and venture capital in Indonesia and Singapore. He focused on growth through digital transformation, specializing in laser-focused digital marketing and operational excellence through software and data. 

FAQ

Apa yang dimaksud dengan sistem ERP?
> Sistem ERP (Enterprise Resource Planning) adalah sistem yang mengintegrasikan berbagai proses inti bisnis—seperti keuangan, penjualan, pembelian, inventori, produksi, dan SDM—dalam satu platform terpusat.

Contoh ERP apa saja?
> Contoh ERP adalah Impact, SAP, Microsoft Dynamics, Oracle NetSuite, dan Odoo.

Apa saja 5 komponen ERP?
> 5 komponen ERP adalah manajemen keuangan, manajemen rantai pasokan, manajemen sumber daya manusia, manajemen produksi, dan manajemen hubungan pelanggan

Bagaimana cara ERP bekerja?
> Sistem ERP bekerja dengan mengintegrasikan seluruh proses bisnis ke dalam satu platform terpusat.

Baca juga

Tim Insights Impact

Tim Insights Impact terdiri dari beragam individu profesional yang memiliki keahlian dan pengalaman dalam berbagai aspek bisnis. Bersama-sama, kami berkomitmen untuk memberikan wawasan mendalam dan pemahaman yang berharga tentang berbagai topik terkait strategi bisnis dan tren industri yang relevan.

Blog